KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) - Para Tokoh Dunia
Headlines News :
Home » » KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Written By nur hadi on Kamis, 11 Oktober 2012 | 09.51


KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) akhirya gagal untuk dianugerahi gelar “Pahlawan Nasional” pada 2010 yang lalu. Hasil keputusan rapat Dewan Gelar Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan pada 1 November 2010 kemudian disahkan dalam Keppres No 52/TK/2010 tanggal 8 November 2010yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional hanya dua nama, yaitu Johannes Abraham Dimara (Pejuang Pembebasan Irian Barat 1961) dan Johannes Leimina ( tokoh Maluku dalam Konggres Pemuda 1928). Selain Gus Dur meskipun dari sisi persyaratan administrasi sudah lengkap nama tokoh lain yang ikut “gagal” adalah Ali Sadikin (mantan Gubernur DKI), Soeharto (Presiden kedua RI) dan Pakubuwono X (Jawa Pos 12/11).
Melawan Arus
Banyak tokoh telah mengkaji pemikiran dan pergerakan Gus Dur semasa masih hidup. Bukan saja karena pemikiran Gus Dur sering menyalahi kebiasaan pada umumnya (khariqatul ‘adat) tetapi juga terbukti bahwa berbagai pemikiran Gus Dur Mampu menjadi penggerak masyarakat (community organizer), terutama kaum muslim tradisional yang termanifestasikan dalam komunitas warga Nahdiyin.
Gus Dur sebenarnya sudah menunjukkan identitas sebagai seorang intelektual muslim yang tidak sembarangan, semenjak mengusung ide untuk lebih berorientasi kepada aktualisasi doktrin Islam di Indonesia dalam wajah pribumisasi daripada arabisasi. Kondisi itu bertolak belakang dengan mayoritas new comers pada 1970-an yang lebih tekstualis-formalistis dalam mengimplementasikan doktrin Islam.

Keberanian Gus Dur untuk “melawan arus” itu merupakan ekspresi dari hasil penolakannya ketika masih belajar nasionalisme-sosialisme Arab saat kuliah di Universitas al_Azhar (Mesir)dan Universitas Baghdad (Iraq), bahkan sosialisme Karl Marx melalui Das Capital yang dibacanya saat masih sekolah di Yogyakarta, ataupun Ikhwanul Muslimin yang sudah dikenal Gus Dur saat masih di Jombang pada 1950-an.
Tidak mengherankan jika kemudian Gus Dur lahir sebagai tokoh yang sangat getol dalam membela kepentingan kaum minoritas. Bahkan Greg Barton (2000), Dosen senior di Deakin University, mengategorikan Gus Dur sebagai tokoh intelektual muslim non chauvinis, figure yang memperjuangkan diterimanya realitas sosial bahwa Indonesia itu beragam. Pada titik tertentu, kecintaan Gus Dur yang mendalam terhadap nilai nilai budaya tradisional dan doktrin Islam itu telah menjadikan Gus Dur sebagai sosok demokrat liberal.
Pelajaran Berharga
Secara substantive, pemberian gelar pahlawan nasional merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menghargai perjuangan orang orang yang berjasa bagi bangsa ini. Memang harus diakui pemberian gelar tersebut masih kental dengan “nuangsa politik” pemerintah yang sedang berkuasa. Sebagai studi kasus sosok Jendral Basuki Rahmat, salah seorang tokoh dibalik Supersemar 1965, langsung dianugerahi gelar pahlawan nasional sehari setelah beliau meninggal dunia pada 8 januari 1969. ini bertolak belakang dengan nama Bung Tomo, tokoh penting dalam pertempuran Arek Suroboyo 10 November 1945 silam. Gelarnya malah baru diberikan pada 2009. begitu pula gelar pahlawan nasional bagi Ir Soekarno yang membutuhkan waktu 16 tahun sejak beliau wafat (1970 – 1986), padahal nota bene Bung Karno adalah Bapak Proklamator Indonesia.
Meski belum dianugerahi gelar pahlawan nasional, nama besar Gus Dur tetap menjadi milik semua elemen bangsa Indonesia.fakta dilapangan menunjukkan bahwa masih banyak peziarah mengunjungi makam Gus Dur di Tebuireng, Jombang sampai sekarang, yang setiap hari tidak kurang dari 2000 orang dan berasal dari penganut berbagai agama di Indonesia. Jumlah itu jauh melampaui angka  4 juta penakziyah pada saat pemakaman Gamal Abdul Nasser, yang memproklamirkan diri sebagai “murid” Bung Karno, ataupun saat prosesi pemakaman Presiden amerika Serikat John F Kennedy (JFK) yang sangat legendaries itu.
Bagi bangsa Indonesia penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Gus Dur di tahun tahun mendatang setidaknya merupakan salah satu bentuk ucapan terima kasih atas dedikasi yang diberikan mantan ketua PBNU itu secara tulus. Namun menurut pandangan penulis, yang jauh lebih penting ke depan sebenarnya adalah upaya anak bangsa ini untuk tetap melestarikan nilai nilai luhur yang sudah dibelajarkan oleh Gus Dur.
Untuk itu, konsistensi Gus Dur ketika menimba ilmu dari semua golongan masyarakat harus tetap dilestarikan guna membentu karakter inklusif dengan open mind sebagai ujung tombak. Keberanian Gus Dur untuk membela kepentingan rakyat kecil dan kaum minoritas patut dijaga dalam melakukan cheks and balances terhadap sikap pemerintah yang cenderung refresif dan otoriter.
Kesederhanaan Gus Dur sudah saatnya dijadikan new spirit bagi para aparatur pemerintahan dalam melayani rakyat, bukan selalu menuntut hak terlebih dahulu. Netralitas Gus Dur dari ambisi kekuasaan patut ditiru oleh para calon pemimpin negeri ini sebelum terjun kedunia politik. Sudah saatnya para elite di negeri ini tidak terjebak kepada pemenuhan aksesori social, seperti kekayaan, jabatan, dan popularitas, tetapi lebih berorientasi kepada melayani rakyat.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Popular Posts

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Para Tokoh Dunia - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template